Ringkasan

Kepiluan Di Perayaan ‘Idul Fitri Gaza

22.9.09-AV-Hari-Raya-di-Gaza-202023 Sept, Gaza – Bersamaan dengan datangnya Idul Fitri tahun ini, ada ribuan muslim Palestin di Jalur Gaza yang tidak merasai kegembiraan Hari Raya, kerana mereka, dengan segala keterbatasan, tinggal di khemah-khemah, atau berlindung di puing-puing rumah mereka yang telah dihancurkan mesin-mesin perang Zionis selama berlangsungnya pembantaian Zionis terhadap Jalur Gaza baru-baru ini.

Suara Hati Muslim Gaza:

Hari Raya kami adalah hari membina kembali rumah kami

Dulu, dalam majlis-majlis jamuan makan dan di setiap pertemuan, kami senantiasa mengulang-ulang perkataan, “Hari Raya kita adalah hari kembalinya kita.” Namun sekarang, setelah pembantaian yang dilakukan oleh tentera Zionis terhadap Jalur Gaza, kini semua memori tersebut semakin hilang dari harapan kami. Seorang warga Palestin, Hasan Abu Khubaizah, yang rumahnya telah dihancurkan pasukan penjajah Zionis, berkata, “Hari Raya kami adalah hari di mana kami harus membina kembali rumah kami, dan menyatukan kembali keluarga kami yang telah tercerai-berai dan terpisah-pisah di pelbagai tempat.

Hari Raya Bersama Kepedihan

Bukan hanya mereka yang rumah-rumah mereka dihancurkan sahaja yang pada Idul Fitri tahun ini semakin merasakan kepedihan, akan tetapi juga sanak saudara dari 1500 syahid yang menjadi korban pembantaian yang baru-baru ini berlangsung. Mereka merasakan pahitnya terpisah dari sanak saudara yang dirampas dari mereka dan menemui ajal pada rangkaian peristiwa keji itu. Hal ini digambarkan oleh Anas Wahbah, saudara kandung Asy Syahid Abdul Karim Sa’id Wahbah dari perkhemahan pelarian An Nushairat yang menemui syahidnya ketika pembantaian tersebut berlangsung. Beliau mengatakan, “Ini adalah Idul Fitri pertama yang kami lalui tanpa kehadiran abang kami, Abdul Karim. Dan aku tidak tahu bagaimana nasib kami nanti. Hanya kepada Allahlah kami meminta segala kebaikan.

Anas menceritakan keadaan kedua orang tuanya, baik kesihatan fizikal mahupun jiwa keduanya setelah syahidnya anak lelaki mereka. Lalu katanya, “Pada hari ini aku meminta kepada Allah kebaikan bagi keduanya, dan agar Ia mrringankan penderitaan keduanya pada hari Idul Fitri pertama yang harus kami lalui tanpa kehadiran abang kami tersebut, Abu Sa’id, yang membawa julukan ayahku.”

Hari Raya Tidak Bersama Ayah

Para tawanan penghuni penjara-penjara penjajah pun melalui hari raya Idul Fitri dalam suasana pedih yang tidak terceritakan. Mereka merasa begitu tersiksa dengan keadaan  terpisah, terampas dan jauh dari orang-orang yang dicintai. Seperti yang diceritakan Khalid Walid Aqil An Najal, anak laki-laki tertua dari seorang tawanan Palestin, anggota Brigade Al Qassam, Walid Aqil, yang dijatuhi hukuman penjara seumur hidup, “Sejak bertahun-tahun yang lalu, terutama ketika mencapai umur akil balig, dan aku mulai menyedari betapa besar nilai kehadiran seorang ayah dan seharusnya dapat merasakan kegembiraan Hari Raya, justru pada saat itulah aku mendapati rumah kami kosong dari kegembiraan dan kebahagiaan, kerana ayah, ketua keluarga kami, sudah tidak ada. Sebagai ayah, tentu ia sangat mencintai dan merindukan kami.”

Khalid berkata dengan penuh kesedihan dan kepedihan, bahawa pada hari raya Idul Fitri ini, ia mengunjungi sanak kerabat, khususnya saudara-saudara perempuannya yang telah berumahtangga. Katanya, “Aku mengunjungi saudara-saudara perempuanku sendirian, dengan harapan, kunjunganku itu dapat menggantikan kunjungan ayahku bagi mereka. ALAQSAVoice/RAL.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

Related Posts