Palestin: Lagenda Tanah Yang Dijanjikan Untuk Yahudi

Kaum Protestan ortodok Amerika masih menafsirkan secara harfi terhadap teks perjanjian lama dan menilai bahawa Palestin adalah tanah yang dijanjikan bagi Yahudi. Fikiran mereka masih dikuasai oleh Zionis. Kebanyakan mereka melihat bahawa Negara Israel adalah perwujudan ramalah yang ada dalam perjanjian lama. Mereka melihat Israel sebagai kaum Ibrani klasik, kembalinya mereka ke Palestin, berdirinya Negara di sana adalah perwujudan “legenda” penyelesaian.

Pastur Jimmi Suwaijirat mengatakan, “Tuhan mengatakan: saya memberikan berkah kepada orang yang memberkahi (mendukung) Israel, melaknat orang yang melaknatnya. Dengan keutamaan Tuhan, Amerika Syarikat masih unggul. Saya yakin Amerika tidak boleh menjadi sehebat itu kecuali kerana ia mendukung Israel. Saya berdoa agar dukungan kepada Israel itu berlanjutan terus,”

Misinonaris Brsoons Levy menyerukan, “Di dalam hati setiap Yahudi bergemuruh keinginan yang tidak mungkin dipadamkan untuk meYahudikan tanah Palestin yang diberikan oleh datuk moyang mereka jika kerajaan Utsmaniah dihancurkan. Hanya mukjizat saja yang dapat menghalangi kembalinya Yahudi ke tanah mereka dari penjuru dunia,” Di tengah tumbuhnya permukiman Yahudi di Al-Quds, Hebron, Shafad maka kepedulian dunia terhadap Zionisme semakin besar. Ini kerana mereka menilai itu sebagai perwujudan ramalan.

50 tahun setelah berlangsungnya Konferensi Zionis Pertama, ketua kelompok Marmon “Orson Hyde” mengatakan, “Gagasan kebangkitan Yahudi di Palestin semakin menguat dari hari ke hari. Roda besar mulai berputar. Mantan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan, “Untuk menghilangkah duri apapun dalam gagasan ini, ada sebahagian kaum Kristian sedia membantu roda itu berputar.”

Dulu Mr. Edwin Sherwin Wulenr – mantan konsulat AS di Palestin – mengatakan, “Orang-orang Israel perlu pulang ke tanah yang telah dikatakan bahawa itu milik mereka ke kota yang mencerminkan pembebasan, tempat yang mereka tinggali sekarang yang tersebar adalah asing bagi mereka. Tempat itu hanya akan terwujud di Palestin. Saya yakin, Palestin akan berada di tangan Yahudi. Tanah menunggu dan bangsa sudah siap datang. Zionis selain dari bangsa Yahudi dari Inggeris dan Amerika Serikat baik yang agamis atau sekuler secara langsung mempengaruhi para politikus untuk mewujudkan perhimpunan Yahudi di Palestin”

Dari sini jelas bahawa protestan Amerika menilai perjanjian lama adalah sumber informasi sejarah umum. Ada manipulasi Israel terhadap sejarah dengan pengakuan hak sejarah di Palestin untuk melibatkan  kaum Kristian memahami kisah-kisah Yahudi saja. Sehingga generasi barat kemudian menilai Palestin sebagai negeri Yahudi.

Tindakan mereka mengungkap tabiat manipulasi yang dilakukan oleh Zionis, Kristian dan Yahudi yang menghalalkan perang mereka demi cita-cita. Manakhem Begin, mantan PM Israel yang menandatangani perjanjian damai dengan Anwar Sadat, Presiden Mesir setelah perang Libanon mengatakan, “Israel akan menikmati apa yang ada dalam teks Taurat dari 40 tahun perjanjian damai,” bagi Zionis yang berpegang dengan Taurat, membunuh, mengusir warga Palestin, menumpahkan darah adalah warak dan mendekatkan diri kepada tuhan mereka.

Inilah yang mendorong Benyamin Netanyahu berpidato di depan kaum Kristian Zionis, “Ada kerinduan lama dalam budaya Yahudi untuk kembali kepada tanah Israel. Mimpi ini yang didambakan sejak 2000 tahun lalu yang diledakkan oleh kaum Kristian Zionis. Kristian Zionis tidak hanya aliran pemikiran, mereka benar-benar merencanakan untuk kembalinya Yahudi ke Palestin. Kristian telah memberikan dukungan panjang dan berkesinambungan serta keberhasilan bagi perancangan Yahudi, termasuk dalam bidang sastera Inggeris. Seperti riwayat Goerge Eilot dari Zionis yang dikenal dengan sebutan Daniel Dirundha yang meramal bahawa Yahudi akan mendirikan entiti baru perpanjangan dari entiti lama. Ini kerana akan ada negeri di timur yang membawa budaya dan mendapatkan simpati dari Negara-negara besar. “Kristian protestan telah membantu mengubah legenda manis menjadi negara Yahudi,” tegas Netanyahu. (bn-bsyr)

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email

Related Posts