Memperingati 61 Tahun Peristiwa Nakbah

Nakbah adalah suatu kata yang agak asing di telinga kita, ramai kalangan kita mungkin tertanya-tanya, apakah yang dimaksud dengan nakbah itu?Berbeza dengan telinga bangsa Arab, khususnya rakyat Palestin, kata nakbah sudah mereka kenal dan mereka fahami maknanya, bahkan kata nakbah tidak akan pernah dilupakan dalam perjalanan hidupnya dimanapun mereka berada.

Nakbah telah menjadi sebahagian dari sejarah bangsa Palestin, sejarah yang tidak boleh terulang lagi sampai bila pun juga, sejarah yang sangat memilukan untuk dikenang, sejarah yang sangat menyedihkan untuk diingat kembali, sejarah kelam bangsa Palestin.

Nakbah dapat didefinisikan: “Suatu musibah, bencana atau malapetaka bagi rakyat Palestin yang disebabkan oleh kebiadaban teroris Israel sehingga mereka meninggalkan rumah dan kampung halamannya untuk hijrah menyelamatkan iman dan jiwa serta harta benda yang masih dimiliki”.


Pada saat itu, di era tahun 1948, tepatnya bulan April, rakyat Palestin dikejar, diburu, bahkan dibunuh secara keji oleh gerombolan teroris Israel, sehingga mereka yang selamat melarikan diri ke Lubnan, Syiria, Jordan, Mesir, Yaman dan beberapa negara Teluk, sehingga saat ini mereka tidak dapat pulang ke rumah, tidak dapat kembali ke kampung halamannya.

Akibat perbuatan kejam yang dilakukan gerombolan tentera Israel pada tahun 1948 menyebabkan 270 ribu orang terusir dan 530 perkampungan Palestin hancur, rumah penduduk banyak yang rata dengan tanah, harta, tanah dan ladang kebunnya juga dirampas. Sehingga saat ini rakyat Palestin yang berada di luar tanah airnya dan berstatus sebagai pelarian berjumlah sekitar 4.830 juta orang (50,55 %).

“(iaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali kerana mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. (QS:Al Hajj/22 : 40).

Walaupun peristiwa Nakbah sudah berlangsung 61 tahun, akan tetapi kisahnya sangat sukar dilupakan oleh rakyat Palestin khususnya, dan orang yang memiliki hati nurani serta akal sihat pada umumnya, kerana begitu dasyatnya kekejaman yang dilakukan oleh tentera zionis Israel kepada anak-anak yang tidak berdosa dan orang-orang tua yang sudah uzur.

Tanggal 9 April 1948, sekitar 35 hari sebelum berdirinya “negara Zionis Israel”, terjadi pembantaian yang sangat mengerikan di desa Deir Yassin. Tiga gerombolan askar Zionis Israel, Haganah, Irgun, dan Stern Gang menyerang desa yang terletak di sebelah barat Baitul Maqdis atau Jerusalem. Lebih daripada 100 orang, baik yang muda, wanita, dan anak-anak dibantai secara sadis. Sebahagian korban ada yang yang dicincang dan diperkosa sebelum dibunuh, ada 25 orang lainnya dari desa itu diarak hingga ke Jerusalem lalu mereka di ”lenyapkan”.

Ramai kalangan Zionis Israel menceroboh ke desa itu, mereka merampas dan merebut rumah serta tanah yang ditinggalkan pemiliknya kerana telah dibunuh dan sebahagian lainnya pergi menyelamatkan diri. Nama Deir Yassin diubah dengan nama Ibrani dan desa Palestin itu lenyap dari peta dunia dan tidak berbekas. Bagi rakyat Palestin, Deir Yassin adalah simbol hilangnya tanah kampung halamannya.

Warga Palestin Tiberius pada tanggal 18 April 1948 mengalami mimpi ngeri yang serupa, penangkapan dan pembantaian yang dilakukan oleh gerombolan tentera Irgun pimpinan Menachem Begin, beliau pernah menjawat jawatan sebagai Perdana Menteri Israel dari partai Likud (21 Jun 1977 – 10 Oktober 1983). Akibat tindakan keji tersebut menyebabkan 5,500 orang rakyat Palestin, meninggalkan desanya, menjadi pelarian menyelamatkan diri.

Tanpa ada perasaan letih, gerombolan teroris Israel terus melakukan kekejaman dan tindakan sadis bahkan terhadap anak-anak yang tidak berdosa, maka sekitar 70,000 orang rakyat Palestin menjadi pelarian meninggalkan tanah air tercintanya dengan perasaan sedih dan linangan air mata, akhirnya kota Haifa jatuh ke tangan gerombolan teroris Zionis Israel.

Gerombolan teroris Irgun terus melakukan dajal, pada 22 April 1948, mereka mengembom kemudahan-kemudahan milik rakyat awam di kota Jaffa, kota terbesar di Palestin pada saat itu, sehingga sekitar 750,000 orang rakyat Palestin ketakutan dan panik melarikan diri. Di saat itu, dikota tersebut hanya tersisa sekitar 4,500 orang yang keadaan mereka sangat menderita dan pada 14 Mei 1948 gerombolan teroris Zionis Israel berhasil menguasai kota Jaffa

“Mengapa kamu tidak mahu berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita mahupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluar­kanlah kami dari negeri ini yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!”. (QS: An Nisaa / 4 :75)”.

Ya Allah lindungi saudara-saudara kami, umat Nabi Muhammad saw di Palestin dari pelbagai macam malapetaka, berilah kesabaran kepada mereka dalam menghadapi setiap musibah. Amin.

Ustaz Haji Ferry Nur

Ketua KISPA

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email

Related Posts